Rabu, 22 Oktober 2008

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah Blog Erwandr telah selesai dikerjakan. Beberapa waktu aku gunakan untuk menyelesaikan blog ini....
Perkenankan saya memperkenalkan seluruh keluarga Erwan Didik Rahardjo
Istri saya Annisa nurul aini, pegawai swasta disebuah kantor penerbitan di kota Solo
Sedangkan anak saya ada 3, 2 cowok, 1 cewek paling besar Farhan Fathurrahman, anak SMP yang tingginya udah kayak bapaknya nomer 2 Fuad Ghifari, anak SD kelas 2 yang selalu bikin heboh dirumah , anaknya pintar dan mudah bergaul. nomer 3 Fieldza Qurotu'aini, cewek imut yang jadi bintang dirumah karena suka menyanyi dan bergaya ala foto model. Cewek satu - satunya yang menjadi saingan ibunya. Itulah seluruh keluarga Erwandr yang selama ini mendampingi dan mendorong saya untuk bekerja dan beribadah kepada Allah SWT. Amien

Selasa, 21 Oktober 2008

Bersihkan Akhlaq kita

KEUTAMAAN AKHLAQ KARIMAH

AlDakwah.org --- Akhlak adalah budi pekerti atau kelakuan, ada yang baik dan ada yang tidak. Islam sangat menjunjung akhlak yang mulia dan banyak disebutkan dalam Al-Qur'an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Banyak sekali dalil yang berhubungan dengan keutamaan akhlak yang mulia, di antaranya:

1. Akhlak karimah merupakan suatu amalan yang memiliki bobot timbangan kebajikan yang sangat berat di hari kiamat kelak, sebagaimana hadits Nabi SAW:

Dari Abu Darda` dari Nabi SAW bersabda "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (kebajikan pada hari Kiamat) dari amalan husnul khuluq (akhlak yang baik). (H.R. Abu Daud 4799 dan Tirmizi 2002-Hadits hasan shahih).



Sebagaimana kita ketahui bahwa hidup di dunia hanya sebentar, karena itu untuk mensiasati umur yang pendek ini sehingga kita memiliki bobot timbangan kebajikan yang sangat berat di hari Kiamat kelak, maka kita harus berusaha seoptimal mungkin untuk mewujudkan akhlak karimah ini ke dalam diri kita.

2. Dan amalan ini pula yang terhitung paling banyak memasukkan manusia ke Surga. Dalam suatu hadits:

Dari abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang (amalan apa) yang banyak memasukkan manusia ke dalam Surga, maka beliau menjawab : "Takwa kepada Allah dan husnul khuluq (berprilaku baik), dan beliau juga ditanya mengenai (hal apa) yang banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, maka beliau menjawab "Mulut dan kemaluan". (H.R. At-Tirmidzi 2004 dan Ibnu Majah 4246 dan Tirmidzi mengatakan hadits hasan gharib).

Urgensi Akhlak dalam Islam

Islam menempatkan akhlak dalam posisi yang sangat signifikan yang harus dipegang teguh para pemeluknya, sampai-sampai perilaku yang baik (akhlak karimah) menjadi tolak ukur bagi kualitas kebaikan seseorang. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat yang bernama An-Nawwas r.a. :

Dari Anwwas bin Sim`an Al-Anshari berkata; Saya bertanya kepda Rasulullah SAW mengenai (apa itu) kebajikan dan dosa, maka beliau menjawab : "Al Bir (kebajikan (itu adalah) husnul khuluq (perilaku yang baik) dan dosa (itu adalah) setiap yang meragukan dalam hatimu dan kamu benci (apabila) orang lain mengetahuinya.(HR: Muslim 2553. Tirmidzi 2389 dan Ad-Darimi 2789).

Seorang tidak dikatakan cinta kepada kebaikan sebelum ia mewarnai dirinya dengan perilaku yang baik, karena husnul khuluq -sebagaimana yang
dijelaskan dalam hadits diatas- merupakan cerminan lahiriah yang harus melekat dari seseorang yang mengaku cinta kepada kebajikan.

Bahkan, perilaku yang baik (husnul khuluq) ini merupakan barometer (ukuran) dari keimanan seseorang. Dengan kata lain keimanan seseorang dapat dinilai dari kualitas akhlak yang bersangkutan. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Bersabda Rasulullah SAW : "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik (interaksinya) akhlaknya terhadap wanita (istri)nya." (HR:Tirmidzi 1162 dan Ahmad 7396).

Artinya keimanan seseorang belum bisa dikatakan tepat, sempurna dan sampai kepada sasaran apabila yang bersangkutan belum mewarnai dirinya dengan perilaku-perilaku yang baik (akhlaqul karimah). Dan konsistensi akhlak seseorang dapat dilihat dalam interaksinya di tengah-tengah keluarganya, karena bisa jadi ia dipandang baik oleh masyarakat sekitarnya, tetapi ia arogan terhadap anak dan istri (keluarga)nya.

Ajaran Islam dalam seluruh aspeknya selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Karena memang misi asasi dari diutusnya Nabi Muhammad SAW kepada umat manusia dengan ajarannya yaitu Islam, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Bersabda Rasulullah SAW :
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia".(Ahmad 8938).

Bersihkan Akidah kita

Bersyahadat Harus Berilmu dari Kitab Alquran dan Hadis serta Meyakini Keduanya

Apa dalilnya harus berilmu dalam bersyahadat dari Alquran dan hadis?

Allah SWT berfirman yang artinya, "Kecuali orang yang meyakini yang hak (tauhid)." Yakni, bersyahadat bahwa tiada illah kecuali Allah. (Mereka orang-orang yang meyakini) dengan hati-hati mereka yang artinya apa yang mereka ucapkan denganlisan-lisan mereka.

Nabi saw. bersabda yang artinya, "Barang siapa yang mati dan dia tahu bahwa tidak ada ilah melainkan Allah, maka ia masuk surga." (HR Muslim).

Apa dalilnya persyaratan harus yakin dalam Alquran dan sunah?

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang eriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (Al-Hujurat: 15).

Dan, Rasulullah saw. bersabda, "Saya bersaksi tidak ada ilah melainkan Allah dan aku (Muhammad) utusan Allah, maka Allah tidak meniupkannya kepada hamba yang ragu-ragu kecuali baginya surga." (HR Ahmad).

Dan, sabdanya yang lain kepada Abu Hurairah r.a., "Siapa saja yang kamu temui di balik dinding ini, dia bersaksi tiada ilah melainkan Allah dengan penuh keyakinan dalam hatinya, maka berilah kabar gembira dengan surga."

Mana dalil adanya syarat mengikatkan diri secara lahir dan batin menurut Alquran dan hadis?

Allah SWT berfirman, "Dan, barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebajikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul yang kokoh." (Luqman: 22).

Dan, Nabi saw. bersabda, "Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sehingga menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku bawa."

Apa dasar syarat "harus menerimanya (syahadat)" dalam Alquran dan sunah?

Allah SWT berfirman mengenai orang yang tidak mau menerima syahadat, "(Kepada para malaikat diperintahkan): 'Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah."

Sampai firman Allah dalam surat yang sama, "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka 'Lailaha illallah' mereka menyombongkan diri sambil berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila'." (Ash-Shaffat: 23--36).

Rasulullah saw. juga bersabda, "Perumpamaan Allah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu seperti Allah menurunkan hujan yang membasahi bumi, darinya tumbuh rerumputan. Dengan tanah yang subur, air yang jernih, Allah memberikan manfaat kepada manusia, mereka dapat meminumnya, untuk mengairi tanaman, dan berbagai cocok tanam. Dan, ada juga sedang tanah yang kering, tidak ada air sehingga tidak ada tanaman yang tumbuh di sana. Begitulah perumpamaan orang yang mendalami agama Allah dan memanfaatkannya apa saja yang Allah utuskan kepadaku, maka ia itulah orang yang berilmu dan mengajarkannya. Dan, juga perumpamaan orang yang tidak mau mengambil dan menerima petunjuk Allah melalui risalahku." (HR Bukhari).

Sumber: 200 Suual wa Jawaab fii Aqiidah al-Islamiyyah, Syekh Hafizh bin Ahmad Hakamy

Diposting dari : http://members.tripod.com/qalbun_salim/menujuhatiyangbersih

Menuju hati yang bersih

Persembahan untuk yang senantiasa mendamba hati yang bersih


PRIORITAS AMALAN HATI

AlDakwah.org --- Imam Ibnu Al Qayyim mengklasifikasikan ibadah dalam 3 (tiga) bagian, yaitu :

1. Amalan Hati, seperti : Tawakkal kepada Allah SWT., mahabatullah, tawadhu`, khusyû`, niat ikhlash, raja` dan lain sebagainya.



2. Amalan Lisan, seperti : Mengucapkan dua kalimat syahadatain, tasbîh, istighfar, bersumpah atas nama Allah SWT. , berdo`a dan lain sebagainya.

3. Amalan Anggota Badan, seperti : Shalat, puasa, jihad, menuntut ilmu, berdagang, berladang, dan lain sebagainya.

Amalan yang paling diprioritaskan atau paling afdhal di antara 3 (tiga) jenis amalan tersebut adalah amalan hati yang dilakukan oleh hati manusia beriman. Ada beberapa alasan asasi (dasar) yang menjadi dasar dari prioritas ini:

1. Amalan hati merupakan penentu sah atau tidaknya suatu amalan

Sesungguhnya amalan lahiriyah yang dilakukan oleh lisan dan anggota tubuh lainnya tidak akan diterima oleh Allah SWT., selama tidak disertai dengan amalan hati (niat) yang merupakan dasar bagi diterimanya suatu amal lahiriah. Sabda Rasûlullah SAW:

"Sesungguhnya seluruh amalan harus disertai dengan niat." (Muttafaqun `Alaihi dari Umar bin al-Khaththab ra.)

Karena itu suatu amal atau pekerjaan atau aktifitas (apapun bentuknya) sangat bergantung dan terkait dengan niatnya. Suatu amal tanpa disertai dengan suatu niat yang benar, seperti halnya badan tanpa ruh atau seperti pohon tanpa buah, tidak berfungsi, dan tidak menguntungkan sedikitpun.

Hatilah yang dinilai oleh Allah SWT, karena bila bersih niatnya, maka Allah SWT. akan menerima amalannya dan apabila kotor hatinya (niatnya tidak benar atau berbau syirik atau tidak ikhlash), maka dengan sendirinya amal tersebut akan ditolak, sabda Rasûlullah SAW:

"Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada bentuk tubuh dan rupamu, tetapi Dia melihat kepada hatimu sambil Beliau mengarahkan jari-jariNya ke dadanya" (H.R. Muslim dari Abû Hurairah ra ).

2. Hati merupakan cerminan hakikat pemiliknya

Dalam shahîh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabî SAW bersabda:

"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati." (Muttafaqun `Alaihi, dari Nu`man bin Basyîr).

Untuk lebih memperjelas pemahaman hadîts di atas marilah kita mengingat kembali firman Allah SWT yang termuat dalam surat Asy-Syams, ayat 8 - 10 :

"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, (QS. 91:8) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS. 91:9) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:10)."

Dalam hati manusia terdapat dua jenis "bibit penentu", yang satu kita sebut saja sebagai "bibit kebaikan" yang merangsang dan mendorong manusia untuk melakukan amal kebaikan atau perbuatan yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT., sedang yang lainnya kita sebut dengan "bibit kejahatan" yang merangsang manusia untuk melakukan melakukan perbuatan fahsya (keji) atau kemungkaran kepada Allah SWT.

Al-Fujûr merupakan "benih kejahatan" yang dengan istilah lainnya dikenal sebagai nafsu syahwat syaithaniyah yang senantiasa membisiki dan menghembusi manusia untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tercela lagi berdosa yang akan mengantarkannya ke jalan kefasikan dan berhilir di neraka. Sedang at-Taqwa merupakan "benih kebaikan" yang senantiasa memotifasi dan memobilisasi manusia untuk melakukan amal kebajikan dan pekerjaan yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa pada hati manusia terdapat 2 (dua) kekuatan yaitu kekuatan "Fujur" dan "Taqwa" (sebagaimana yang dipaparkan dalam surat Asy-Syams di atas) yang selalu bertempur untuk saling mengalahkan satu dengan yang lainnya sehingga salah satu dari keduanya menjadi pemenang atau lebih mempunyai pengaruh dalam menentukan perilaku kehidupan "tuannya". Apabila setiap rangsangan "benih kebaikan (At-Taqwa)" ini yang timbul dalam diri manusia selalu direspon dalam bentuk amal shalih secara benar dan kontinue (berkesinambungan) maka dengan sendirinya "benih kebaikan" akan semakin berkembang dan akan mendominasi atau mengusai hati "tuannya". Sehingga ide, pola fikir, keperibadian dan seluruh anggota tubuhnya akan menjadi baik karena mengikuti instruksi-instruksi yang datang dari hati yang dipenuhi dengan "benih kebaikan". Maka jadilah "tuannya" ini termasuk orang-orang beruntung yang mampu membersihkan jiwanya dari nafsu syahwat syaithaniyah karena ia hanya mau merespon bisikan dan panggilan kebaikan (taqwa) saja. Sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS. 91:9)

Dan sebaliknya bagi manusia yang lebih sering merespon tuntutan nafsu syahwat syaithaniyahnya maka tindakan tercela lagi berdosa itu dengan otomatis memberikan kontribusi dan mempercepat pertumbuhan serta peluasan "benih-benih kejahatan (fujûr)" sehingga benih ini akan mendominasi hatinya. Dari Abû Hurairah ra bahwa Rasûlullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya orang mukmin, ketika ia berbuat dosa maka (saat itu juga) akan menempel titik hitam di hatinya, jika ia bertaubat dan mencabut (dirinya dari perbuatan dosa tersebut) dan memohon ampunan maka hatinya (kembali) bersih, jika ia menambahinya (dengan perbuatan dosa lagi) maka titik hitam itu bertambah pula di dalam hatinya. Selanjutnya itulah "ran" yang disebutkan dalam firman Allah SWT:

"(Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka)."

Hadits hasan, dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam "Kitab Az-Zuhd, bab Dzikru Adz-Dzunûb.

Pada saat hati manusia dikuasai oleh "benih-benih kejahatan (fujûr)" maka ide, pola fikir, keperibadian dan seluruh anggota tubuhnya akan menjadi buruk karena mengikuti instruksi-instruksi yang datang dari hati yang dipenuhi dengan "benih kejahatan", sehingga jadilah ia termasuk orang-orang yang merugi karena ia telah mengotori dan mencemari jiwanya dengan selalu menuruti nafsu syahwat syaithani, sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:10)."

Dalam kitab Minhajul Qashidîn dikatakan:

Bahwa sesuatu yang paling berharga, paling bernilai dan paling mulia pada diri manusia adalah hatinya. Sedang anggota tubuh hanya sekedar mengikuti dan menjadi pelayan hati, sebagaimana seorang tuan yang memerintahkan hamba sahayanya sebagai pelayannya.

Abu Faqih Rendusara

Diposting dari : http://members.tripod.com/qalbun_salim/